Rabu, 08 Agustus 2012


logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 23 April 2006 NASIONAL
Line

Menghidupkan Sendang sebagai Sekolah Alam

  • Peringatan Hari Bumi

SIRAM POHON: Peringatan Hari Bumi Internasional dan Kampanye Indonesia Menanam juga dilaksanakan di Jakarta, Sabtu (22/4). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyaksikan penyanyi Iwan Fals menyiram pohon yang baru ditanam. (99) - SM/Antara


SEMARANG - Bocah-bocah bermain di sendang adalah pemandangan biasa di alam pedesaan. Lingkungan teduh bernaung rimbun pepohonan, membuat mereka merasa nyaman. Ada yang mandi, mengumpulkan daun-daun atau sekadar keceh.
Di Semarang, suasana semacam itu, saat ini nyaris tinggal kenangan. Sendang-sendang, satu demi satu hilang, diuruk dan dibangun menjadi areal permukiman. Perlahan-lahan, sendang kehilangan peran. Warga mengambil air untuk keperluan sehari-hari dari perusahaan daerah air minum (PDAM). Masih ada memang sendang yang tersisa di wilayah pinggiran, namun kondisinya memprihatinkan.
Satu di antaranya adalah Sendang Dawung di Kelurahan Pedalangan, Tembalang. Airnya yang dulu jernih, kini telah berwarna kecokelatan. Sebuah lagi di dekatnya, yakni Tirtohusodo. Kondisinya bahkan lebih mengenaskan. Sendang itu berubah menjadi semak-semak, dengan sampah menumpuk.
Sabtu (22/4) petang, suasana sendang yang berada di sebelah utara Perumahan Graha Estetika itu semarak oleh anak-anak. Mereka bermain, bernyanyi-nyanyi, dan berlari-larian. Masing-masing membawa boneka berbentuk binatang yang dibuat dari bahan botol air mineral. Romantisme masa lalu yang telah hilang, tiba-tiba hadir kembali.
Bermain di sendang adalah bagian dari peringatan Hari Bumi 2006 yang dihelat Komunitas Peduli Lingkungan dan para pegiat seni budaya di Semarang. Acara itu sebentuk ikhtiar mengembalikan fungsi sendang yang nyaris hilang. Di luar itu, sejumlah acara dilaksanakan, mulai dari diskusi, pemutaran film, hingga performance art Sedekah Sendang oleh Komunitas Unggun Rembulan Jepara, Gong Bojawi, Teater Emka, dan Ruang Rupa Semarang. Acara berlangsung sehari penuh, dari pagi hingga malam.
Mitologi Baru
Win Patung, seorang penggagas acara menuturkan, ritus Sedekah Sendang adalah upaya membangun mitologi baru, yakni menghidupkan kembali sendang sebagai sekolah alam. Dengan membersihkan lahan bersama warga, tempat itu kelak akan dibangun kembali sebagai taman bermain anak. Kecintaan terhadap alam dari anak-anak itulah yang diharapkan bisa mengembalikan potensi alam yang kini semakin mati.
Warga di lokasi itu bertutur, sendang itu dulu merupakan gantungan hidup masyarakat asli Pedalangan. Setiap hari, mereka mencuci pakaian, mencuci piring, mandi, bahkan mencari wangsit Mbah Dawung di tempat itu.
Kisah perempuan tua, penunggu sendang, tentu saja sebuah mitos. Sebagaimana tempat-tempat di Jawa yang dibangun dengan mitos, sendang itu tak lepas dari kisah-kisah gaib. Tiga klaster tuk (mata air) yang kebetulan berada selokasi, diyakini mampu memberi wangsit. Tak heran, setiap malam tertentu, ada saja orang yang ngalap berkah.
Namun sayang, sendang itu kini tak lagi ''bernyawa''. Sebagian lahan sudah beralih fungsi menjadi perumahan. Warga lama pun berganti baru dan kebanyakan pendatang tak lagi memanfaatkan air setempat.
''Apalagi setelah juru kunci sendang meninggal. Karena mitologinya hilang, sendang ini tak terurus lagi. Kalau ingin menghidupkannya, ya harus membangun mitologi baru,'' ujar Win Patung.
Perlindungan Hutan
Ratusan pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Dinamika Kepecintaalaman (FORDIK) Purwokerto juga melakukan aksi dalam rangka peringatan Hari Bumi. Sebanyak 18 kelompok mahasiswa dan sembilan kelompok siswa pencinta alam mengadakan aksi secara serempak di kampus, sekolah, dan tempat-tempat strategis di kota Purwokerto.
Mereka menggelar kampanye penyelamatan hutan dan menyerukan gaya hidup ramah lingkungan melalui orasi, penyebaran pamflet, pemasangan stiker, dan bersepeda keliling kota. Kampanye dimulai oleh ''Indie Earth Community'' Purwokerto dengan bersepeda keliling kota pada pukul 08.00. Pada saat yang sama, Paguyuban Pencinta Alam (PPA) Eiger Corps SMA 1 Purwokerto membagikan stiker kepada seluruh siswa.
Di kampus Universitas Jendral Sudirman, aksi dipusatkan di Jl HR Bunyamin. (H6,H12,shs-62,46m)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar